Mengenal Riba dan Konsekuensinya

Oleh: Drs. Zafrudin Muhson

 

A. Pengertian Riba

1. Bahasa
Secara bahasa, kata riba (ربا) berarti ziyadah (زیادة) yaitu tambahan. Dikatakan dalam ungkapan Arab:

رَبَا َّ الشيْءُ إذَا زَادَ

Sesuatu mengalami riba, maksudnya mengalami pertambahan.

Kadang kata riba juga disebutkan dengan lafadz yang berbeda, seperti rama’ (رماء), sebagaimana perkataan Umar bin Al-Khattab :

إنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمُ َّ الرَمَا

Aku takutkan dari kalian adalah rama’ (maksudnya adalah riba)

Kadang juga digunakan istilah rubbiyah (ربیة), sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

أَنْ لَيْسَ عَلَيْهِمْ ِّ َّرُبـيةٌ وَلاَ دَمٌ

Tidak ada lagi tuntutan atas riba ataupun darah.

2. Istilah
Adapun definisi riba menurut istilah dalam ilmu fiqih, kita temukan beberapa ungkapan yang berbeda-beda dari masingmasing mazhab utama.

a. Al-Hanafiyah

فَضْلٌ خَالٍ عَنْ عِوَضٍ بِمعَيارٍ شَرْعِي مَشْرُوطٍ لِأحَدِالْمُتـعَاقِدَيْنِ في الْمُعَاوَضَةِ

Kelebihan yang bukan termasuk penggantian dengan ketentuan syar’i yang disyaratkan atas salah satu pihak dalam masalah mu’awadhah.

b. Al-Malikiyah

كُل نَـوْعٍ مِنْ أَنْـوَاعِ ّالرَبَا عَلَى حِدَةٍ

c. Asy-Syafi’iyah

عَقْدٌ عَلَى عِوَضٍ مَخْصُوصٍ غَيِر مَعْلُوِم التمَاثُل في مِعَيارِ ّالشرِعِ حَالَةَ الْعَقْدِ أَوْ مَعَ تَأْخِيٍر في الَبدَلَيْنِ أَوْ أَحَدِهِمَا

Akad atas penggantian yang dikhususkan,
d. Al-Hanabilah

تَـفَاضُلٌ في أَشَياءَ وَنَسْءٌ في أَشَياءَ ٌّ مُخَتَص بِأَشَياءَ وَرَدَ َّ الشرْعُ بِتحْرِيمِهَا – أَيْ تَحْرِيِم ِّ الرَبَا فِيهَا – نَصا في الَبَـعْضِ وِقِياسًا في الَباقِي مِنْـهَا

Dan secara istilah berarti tambahan pada harta yang disyaratkan dalam transaksi dari dua pelaku akad dalam tukar menukar antara harta dengan harta.
Sebagian ulama ada yang menyandarkan definisi ‘riba’ pada hadits yang diriwayatkan al-Harits bin Usamah

Dari Ali bin Abi Thalib, yaitu bahwa Rasulullah SAW bersabda:” Setiap hutang yang menimbulkan manfaat adalah riba”.

Pendapat ini tidak tepat, karena, hadits itu sendiri sanadnya lemah, sehingga tidak bisa dijadikan dalil. Jumhur ulama tidak menjadikan hadits ini sebagai definisi riba’, karena tidak menyeluruh dan lengkap, disamping itu ada manfaat yang bukan riba’ yaitu jika pemberian tambahan atas hutang tersebut tidak disyaratkan.

B. Keharaman Riba dan Ancaman Bagi Pelakunya

Riba termasuk satu dari tujuh dosa besar yang telah ditentukan Allah SWT. Pelakunya diperangi Allah di dalam AlQuran, bahkan menjadi satu-satunya pelaku dosa yang dimaklumatkan perang di dalam Al-Quran adalah mereka yang menjalankan riba. Pelakunya juga dilaknat oleh Rasulullah SAW. Mereka yang menghalalkan riba terancam dengan kekafiran, tetapi yang meyakini keharamannya namun sengaja tanpa tekanan menjalankanya termasuk orang fasik.

1. Termasuk Tujuh Dosa Besar
Riba adalah bagian dari 7 dosa besar yang telah ditetapkan oleh Rasulullah SAW. Sebagaimana hadits berikut ini :

عَنْ أَبي هُرَيْـرَةَ عَنْ الَّنِـِبي صلى ا ﷲ عليـه وسلم قَـالَ : اجْتَنِبُوا الَّسبْعَ الْمُوِبِقَاتِ قَـالُوا : وَمَا هُّن يَـا رَسُولَ ﷲ ؟ قَالَ : الشرْكُ بِاللهِ ّوَالسحْرُ وَقَـتْلُ النَّـفْسِ َّ التِي َّ حَرَمَ ﷲ إلا ِّبِـالْحَق وَأَكْـلُ ِّ الرَبَـا وَأَكْـلُ مَـالِ الَيِتِيمِ وَالتـوَّلي يَـوْمَ ّالزحْفِ وَقَذْفُ الْمُحْصَناتِ الْغَافِلاتِ الْمُؤِمِناتِ

Dari Abi Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Jauhilah oleh kalian tujuh hal yang mencelakakan”. Para shahabat bertanya,”Apa saja ya Rasulallah?”. “Syirik kepada Allah, sihir, membunuh nyawa yang diharamkan Allah kecuali dengan hak, makan riba, makan harta anak yatim, lari dari peperangan dan menuduh zina. (HR. Muttafaq alaihi).

2. Diperangi Allah
Tidak ada dosa yang lebih sadis diperingatkan Allah SWT di dalam Al-Quran, kecuali dosa memakan harta riba. Bahkan sampai Allah SWT mengumumkan perang kepada pelakunya. Hal ini menunjukkan bahwa dosa riba itu sangat besar dan berat.

يَا أَيّـهَا َّ الذِينَ آمَنوا َّ اتـقُوا َّ الله وَذَرُوامَا بَقِيَ مِنْ ِّ الرَبَا إنْ كُنْتُمْ مُؤِمِنينَ فِإنْ لَمْ تَـفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ َّ اللهِ وَرَسُوِلِهِ وِإنْ تُـبْتمْ فَـلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba jika kamu orang-orang yang beriman.Maka jika kamu tidak mengerjakan , maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat , maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak dianiaya. (QS. Al-Baqarah : 278-279)

3. Mendapat Laknat dari Rasulullah SAW

عَنْ جَابِرٍ قَالَ لَعَنَ رَسُولُﷲ آكِلَ ِّ الرَبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ

Rasulullah saw melaknat pemakan riba, yang memberi, yang mencatat dan dua saksinya. Beliau bersabda : mereka semua sama. (HR. Muslim)

Dalam hadits lain disebutkan :

Diriwayatkan oleh Aun bin Abi Juhaifa,’Ayahku membeli budak yang kerjanya membekam. Ayahku kemudian memusnahkan alat bekam itu. Aku bertanya kepaa ayah mengapa beliau melakukannya. Beliau menjawab bahwa Rasulullah saw. Melarang untuk menerima uang dari transaksi darah, anjing dan kasab budak perempuan. Beliau juga melaknat penato dan yang minta ditato, menerima dan memberi riba serta melaknat pembuat gambar.

4. Lima Dosa Sekaligus
As-Sarakhsy berkata bahwa seorang yang makan riba akan mendapatkan lima dosa atau hukuman sekaligus, yaitu attakhabbut, al-mahqu, al-harbu, al-kufru dan al-khuludu fin-naar.

a. At-Takhabbut :
Orang yang makan harta riba mendapat at-takhabbut, yang bermakna kesurupan seperti kesurupannya syetan.

b. Al-Mahqu :
Orang yang makan harta riba mendapat al-mahqu, yaitu dimusnahkan oleh Allah. Yang dimusnahkan bisa saja hartanya secara fisik, tetapi bisa juga keberkahannya.

c. Al-Harbu :
Orang yang makan harta riba mendapat al-harbu, yaitu diperangi oleh Allah SWT, sehingga menjadi musuh Allah dan musuh agama.

d. Al-Kufru :
Orang yang makan harta riba mendapat dianggap kufur dari perintah Allah SWT, dan dianggap keluar dari agama Islam apabila menghalalkannya. Tapi bila hanya memakannya tanpa mengatakan bahwa riba itu halal, dia berdosa besar.

e. Al-Khuludu fin-Naar
Orang yang makan harta riba di akhirat nanti tempatnya kekal di dalam neraka, sekali masuk tidak akan pernah keluar lagi dari dalamnya. Nauzu bilah.

5. Seperti Dosa Menikahi Ibu Sendiri
Saking dahsyatnya riba itu, sampai disebutkan bahwa dosa menjalankan riba itu setara dengan menikahi ibu kandung sendiri.

عَـنْ عَبْـدِ اَللهِ بْـنِ مَسِعُودٍ رَضِـيَ اﷲُ عَنْـهُ عَنْ اَلَّنـبي قَالَ: اَلرَبَـا ثَلاثةٌ وَسَبْـعُونَ بَابًا أَيْسَرُهَا مثْلُ أَنْ يَـنْكحَ َّ اَلرجُلُ أُّ ُمهُ

Dari Abdullah bin Masud RA dari Nabi SAW bersabda,”Riba itu terdiri dari 73 pintu. Pintu yang paling ringan seperti seorang lakilaki menikahi ibunya sendiri. (HR. Ibnu Majah dan Al-hakim)

6. Lebih Dahsyat Dari 36 Perempuan Pezina
Tingkatan haramnya dosa riba lainnya adalah setara dengan 36 perempuan pezina, sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut ini :

عِنْ عَبْد اﷲ بْنِ حَنْظَلَة غَسِيلُ المِلاَئِكِةِ قَالَ : قِالَ رِسُولُ اﷲ r درْهمُ ربا يَأْكُلُهُ َّ الرجُلُ وَهُوَ يـعْلَمُ أشَدُّ مَنْ ست وَثلاَثيْنَ زَنيَّة – رواه أحمد

Dari Abdullah bin Hanzhalah ghasilul malaikah berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Satu dirham uang riba yang dimakan oleh seseorang dalam keadaan sadar, jauh lebih dahsyah dari pada 36 wanita pezina. (HR. Ahmad)
Dengan dalil-dalil qoth’i di atas, maka sesungguhnya tidak ada celah bagi umat Islam untuk mencari-cari argumen demi menghalalkan riba. Karena dali-dalil itu sangat sharih dan jelas. Bahkan ancaman yang diberikan tidak main-main karena Allah memerangi orang yang menjalankan riba itu.

C. Proses Pengharaman Riba

Al-Quran mengharamkan riba dalam empat tahap (marhalah). Dr. Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir menjelaskan tahapan pengharam riba adalah sebagai berikut :

1. Tahap Pertama

وَمَا آتَـيتُمْ مِنْ رِبًا لِيَـرْبُـوَ في أَمْوَالِ الَّناسِ فَلا يَـرْبُو عِنْدَﷲ

Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. (QS. Ar-Ruum : 39 )

Ayat ini turun di Mekkah dan menjadi tamhid, atau awal mula dari diharamkannya riba dan urgensi untuk menjauhi riba.

2.Tahap Kedua

فَبِظُلْمٍ مِنَ الَّذِينَ هَادُوا حَرَّمْنَا عَلَيْهِمْ طَيِّبَاتٍ أُحِلَّتْ لَهُمْ وَبِصَدِّهِمْ عَنْ سَبِيلِ اللهِ كَثِيرًا. وَأَخْذِهِمُ الرِّبَا وَقَدْ نُهُوا عَنْهُ وَأَكْلِهِمْ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ مِنْهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah. (QS. An-Nisa : 160-161)

Ayat ini turun di Madinah dan menceritakan tentang perilaku Yahudi yang memakan riba dan dihukum Allah. Ayat ini merupakan peringatan bagi pelaku riba.

3.Tahap Ketiga

يَا أَّيـهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا ّالرَبَا أَضْعَافًا مُضَاعَفَةً َّ وَاتـقُوﷲ لَعَلكُمْ تُـفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.(Ali Imran : 130)

Pada tahap ini Al-Quran mengharamkan jenis riba yang bersifat fahisy, yaitu riba jahiliyah yang berlipat ganda.

4.Tahap Keempat

يَا أَّيـهَا الَّذِينَ آمَنُوا َّ اتـقُوا ﷲ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرَبَا إنْ كُنْتُمْ مُؤِمِنينَ فَـِإنْ لَمْ تَـفْعَلُوا فَـأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِـنَ اللَّـهِ وَرَسُوِلِهِ وِإنْ تُـبْـتُمْ فَـلَكُ مْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لا تَظْلِمُونَ وَلا تُظْلَمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orangorang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.(Al-Baqarah : 278-279)

Pada tahap ini Al-Quran telah mengharamkan seluruh jenis riba dan segala macamnya. Alif lam pada kata (الربا) mempunyai fungsi lil jins, maksudnyadiharamkan semua jenis dan macam riba dan bukan hanya pada riba jahiliyah saja atau riba Nasi’ah.

Hal yang sama pada alif lam pada kata (البیع) yang berarti semua jenis jual-beli.

D. Riba Dalam Jual-Beli

Secara garis besarnya riba ada dua macam, yaitu riba yang terkait dengan jual-beli dan riba yang terkait dengan peminjaman uang.
Riba yang terkait dengan jual beli sering disebut dengan riba fadhl, sedangkan yang terkait dengan uang pinjaman sering disebut riba nasiah.

1. Pengertian
a. Bahasa
Kata fadhl (فضل) dalam bahasa Arab bermakna kelebihan atau sesuatu yang melebihi dari ukurannya.

b. Istilah
Sebagian ulama mendefinisikannya sebagai :

التـفَاضُل في الْجِنْسِ الْوَاحِدِ مِنْ أَمْوَال ِّالرَبَا إذَا بِيعَ بَـعْضُهُ بِبـعْضٍ

Kelebihan pada jenis yang sama dari harta ribawi, apabila keduanya dipertukarkan.

Riba fadhl (فضل) adalah riba yang terjadi dalam barter atau tukar menukar benda riba yang satu jenis, dengan perbedaan ukurannya akibat perbedaan kualitas.

Riba jenis ini punya beberapa nama yang lain. Ibnul Qayyim menyebut jenis riba ini adalah riba khafiy (ربا خفي), sebagai lawan dari riba jaliy (ربا جلي).

2. Kriteria Riba Fadhl
Tidaklah terjadi riba fadhl, kecuali apabila terpenuhi kriteria berikut ini :

a. Tukar Menukar Barang
Pada dasarnya riba fadhl adalah riba yang terdapat dalam sebuah proses traksaksi jual-beli antara dua barang. Suatu barang ditukar langsung dengan barang, bukan ditukar dengan uang. Jual-beli seperti ini sering kita sebut barter.
Kalau yang dipertukarkan adalah uang dengan barang, maka akad itu bukan akad riba fadhl. Dan hukumnya diperbolehkan.

b. Pertukaran Langsung
Kriteria riba fadhl yang kedua adalah bahwa pertukaran antara kedua barang itu dilakukan secara langsung, tanpa lewat proses penjualan dan pembelian dengan uang.

a. Dua Barang Dari Jenis Yang Sama
Kriteria ketiga dari akad riba fadhl bahwa barang yang dipertukarkan oleh kedua belah pihak merupakan satu jenis barang yang sama.
Kalau barang yang dipertukarkan itu dua barang yang berbeda jenisnya, maka bukan termasuk riba fadhl. Misalnya, beras ditukar dengan kurma, atau emas ditukar dengan perak, maka pertukaran itu bukan termasuk riba fadhl. Dan hukumnya diperbolehkan.

b. Beda Ukuran Karena Perbedaan Kualitas
Riba fadhl terjadi hanyalah bila dua jenis barang yang sama dipertukarkan dengan ukuran yang berbeda, akibat adanya perbedaan kualitas di antara kedua.
Kalau kedua barang itu punya ukuran sama dan kualitas yang sama, tentu bukan termasuk riba fadhl.
Contoh dua benda yang sama tapi beda ukuran adalah emas 150 gram ditukar dengan emas 100 gram secara langsung. Emas yang 150 gram kualitasnya cuma 22 karat, sedangkan emas yang 100 gram kualitasnya 24 karat. Kalau pertukaran langsung benda sejenis beda ukuran ini dilakukan, maka inilah yang disebut dengan riba fadhl dan hukumnya haram.

c. Jenis Barang Tertentu
Dan jenis barang yang dipertukarkan itu terbatas hanya benda-benda tertentu saja dan tidak berlaku untuk semua jenis barang. Barang-barang ini kemudian sering disebut dengan harta ribawi (المال الربوي).
Maka apabila kedua barang yang dipertukarkan ternyata bukan termasuk dalam kriteria al-mal ar-ribawi, walaupun beda ukuran tetapi tidak termasuk akad riba fadhl yang diharamkan.
Misalnya tanah seluas 100 meter persegi ditukar dengan tanah 1.000 meter persegi. Kedua belah pihak sepakat dengan pertukaran yang ukurannya berbeda ini, lantaran nilai harga jual masing-masing berbeda. Yang 100 meter terletak di tengah kota yang amat strategis, sedangkan yang 1.000 meter terletak di pelosok kampung di balik gunung.
Maka pertukaran seperti itu dalam hukum fiqih bukan termasuk riba fadhl.
Kenapa?
Karena tanah bukan termasuk al-mal ar-ribawi. Demikian juga bila yang dipertukarkan langsung (barter) berupa rumah, kendaraan, aset perabotan dan seterusnya.

ArabicEnglishIndonesian
Scroll to Top